Seorang
remaja wanita yang bernama keira
sepulang sekolah langsung menuju kamarnya dan berdiam diri, dalam hati dan
pikirannya yang sinkron hanya ada kalimat “True or False”. Disetiap harinya ia
selalu mendengarkan sesuatu yang buruk mengenai laki-laki yang sangat dia
cintai, padahal ia pikir “apa yang salah ? beliau hanya mengerjakan tugasnya”
tetapi mendengar semua perkataan hina yang dikeluarkan oleh semua orang yang
dihadapannya diapun berfikir “apakah itu memang benar?”. Setiap hari ia
melakukan kegiatan dari awal ia bangun sampai kembali tidur selalu saja ada
kalimat yang hina itu terdengar dari
masyarakat kalangan apapun seperti supir angkot, seorang bapa/ibu yang akan
berangkat kerja, bahkan teman-teman sebayanya.
Suatu
ketika disaat Hari Raya Idul Fitri disaat semua umat islam merayakannya termasuk
Keira. Tetapi ada sesuatu yang berbeda saat
akan melakukan solat berjamaah di mesjid semua tetangganya pergi bersama
keluarganya yang lengkap tetapi dia berangkat tanpa ayahnya yang harus
bertugas. Hal itu mungkin bagi orang-orang yang tak biasa tanpa ayahnya akan menyakitkan
tetapi tidak untuk keira karena dia sudah terbiasa disetiap hari-hari besar ayahnya tidak pernah hadir
dalam rumah karena harus selalu berada di pinggir jalan.
Semakin hari semakin
banyak yang mengeluarkan kalimat hina itu, teman satu kelasnya, bahkan disaat
orang-orang dewasa yang berada di lingkungan sekolah. Suatu hari sepulang
sekolah keira bertanya pada ibunya “ibu apabila ingin bekerja seperti ayah
harus bagaimana?” Ibunya menjawab “Harus sekolah kemiliteran dan sangat dilatih
fisiknya” ia melamun apakah itu yang disebut hina ?. Disuatu malam yang sangat
mengerikan adiknya takut dan mencoba berlindung kepadanya, tetapi dia pun
sangat ketakutan saat itu, hujan deras dan petir yang tak berhenti berteriak, akhirnya
dia dan adiknya pun mencoba berlindung pada ibunya, tetapi apalah daya seorang
ibu , ibu bukanlah sosok yang kuat seperti ayah.
Karena
malam itu, Keira berdoa kepada Allah “Ya allah hamba kini tau semua kalimat
hina yang dikatakan semua orang hanyalah opini mereka, karena aku merasakan
betapa ayah bekerja keras demi Negara meski upahnya tidak seberpa, sebelum
fajar mengetuk pintu beliau telah pergi meninggalkan kami, dan disaat bulan datang
dan kami mencoba tertidur dengan tangisan adik yang rindu pada ayah, beliau pun
belum juga pulang”. Sejak malam itu keesokan paginya Keira bangun dengan
senyuman manis dan TULI terhadap opini orang-orang yang menjatuhkan dia dan
keluarganya. Kini dia hanya mengambil hikmah bahwa semua pekerjaan ada ada
nilai positif dan negatifnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar