Senin, 10 September 2012

Hinaan Itu Adalah Kebanggaanku


Seorang remaja wanita yang  bernama keira sepulang sekolah langsung menuju kamarnya dan berdiam diri, dalam hati dan pikirannya yang sinkron hanya ada kalimat “True or False”. Disetiap harinya ia selalu mendengarkan sesuatu yang buruk mengenai laki-laki yang sangat dia cintai, padahal ia pikir “apa yang salah ? beliau hanya mengerjakan tugasnya” tetapi mendengar semua perkataan hina yang dikeluarkan oleh semua orang yang dihadapannya diapun berfikir “apakah itu memang benar?”. Setiap hari ia melakukan kegiatan dari awal ia bangun sampai kembali tidur selalu saja ada kalimat yang hina itu terdengar  dari masyarakat kalangan apapun seperti supir angkot, seorang bapa/ibu yang akan berangkat kerja, bahkan teman-teman sebayanya.
Suatu ketika disaat Hari Raya Idul Fitri disaat semua umat islam merayakannya termasuk Keira. Tetapi ada sesuatu yang berbeda saat  akan melakukan solat berjamaah di mesjid semua tetangganya pergi bersama keluarganya yang lengkap tetapi dia berangkat tanpa ayahnya yang harus bertugas. Hal itu mungkin bagi orang-orang yang tak biasa tanpa ayahnya akan menyakitkan tetapi tidak untuk keira karena dia sudah terbiasa disetiap  hari-hari besar ayahnya tidak pernah hadir dalam rumah karena harus selalu berada di pinggir jalan.
Semakin hari semakin banyak yang mengeluarkan kalimat hina itu, teman satu kelasnya, bahkan disaat orang-orang dewasa yang berada di lingkungan sekolah. Suatu hari sepulang sekolah keira bertanya pada ibunya “ibu apabila ingin bekerja seperti ayah harus bagaimana?” Ibunya menjawab “Harus sekolah kemiliteran dan sangat dilatih fisiknya” ia melamun apakah itu yang disebut hina ?. Disuatu malam yang sangat mengerikan adiknya takut dan mencoba berlindung kepadanya, tetapi dia pun sangat ketakutan saat itu, hujan deras dan petir yang tak berhenti berteriak, akhirnya dia dan adiknya pun mencoba berlindung pada ibunya, tetapi apalah daya seorang ibu , ibu bukanlah sosok yang kuat seperti ayah.
Karena malam itu, Keira berdoa kepada Allah “Ya allah hamba kini tau semua kalimat hina yang dikatakan semua orang hanyalah opini mereka, karena aku merasakan betapa ayah bekerja keras demi Negara meski upahnya tidak seberpa, sebelum fajar mengetuk pintu beliau telah pergi meninggalkan kami, dan disaat bulan datang dan kami mencoba tertidur dengan tangisan adik yang rindu pada ayah, beliau pun belum juga pulang”. Sejak malam itu keesokan paginya Keira bangun dengan senyuman manis dan TULI terhadap opini orang-orang yang menjatuhkan dia dan keluarganya. Kini dia hanya mengambil hikmah bahwa semua pekerjaan ada ada nilai positif dan negatifnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar