Senin, 17 September 2012

Kehendak Tuhan


Disudut teras rumah ku aku melihat tetangga baru. Aku menyapa ibu yang sedang menyapu dihalaman rumahnya. Hallo ibu permisi aku salah satu tetangga barumu, sapaan ku. Hallo nak senang bertemu denganmu, kau sepertinya sebaya dengan anak ibu siapa namamu? Tanya ibu itu. Saya khoirunnisa bu panggil saja saya Nisa. Aku bersekolah di sekolah SMA Kemerdekaan kelas X, anak ibu sebaya kah denganku? Jawabku. Iya dia sebaya denganmu dan ibu telah mendaftarkannya ke sekolah yang sama denganmu nak tapi sayang dia sedang tidak dirumah dia sedang ibu suruh beli makanan, kamu tinggal dengan siapa disini? Tanyanya. Aku tinggal sendiri bu, ayahku pulang tiga bulan sekali ia bekerja di luar negeri, jawabku. Ohya? Kalau begitu kau bisa sering main kesini jika kau kesepian nak.
Pagi yang cerah membangunkan ku untuk segera bergegas pergi sekolah entah mengapa aku sangat senang dengan adanya tetangga baru itu, saat aku mengunci gembok pagar rumah ku ibu Sania yaitu tetangga baruku memanggil dan memperkenalkanku pada anaknya yang bernama Adit , pada akhirnya kita pergi sekolah bersama. Karena kedekatan yang selalu terjalin setiap harinya  aku dan Adit mejalin hubungan lebih daripada teman, entah mengapa Adit dan aku tidak sulit untuk saling menyayangi, ada sebuah rasa yang selalu membuat hati kita bersatu.
Tiga bulan kemudian ayah pulang, sepulang sekolah aku memperkenalkan Adit pada ayah dan entah mengapa ayah pun dengan mudah akrab dengan Adit dan meminta untuk bertemu dengan keluarga Adit. Karena memang bertetangga aku dan Adit mengajak ayah kesana. Dan sesuatu yang mengejutkan ternyata ayah dan Ibu Adit telah saling mengenal mereka adalah orang tuaku dan orang tua Adit. Mereka dulunya ialah suami istri yang sebelumnya dipertemukan disebuah ladang pertenakan keluarga ayah dan ibu hanyalah anak salah satu pekerja ladang kakek, tapi karena cinta yang tiba – tiba datang, mereka melarikan diri untuk menikah dan pada saat ibu melahirkan anak kembar tidak identik ayah dan ibu dipisahkan dengan membawa masing – masing satu anak. Aku dan Adit hanya dapat terdiam dan terkejut dengan cerita mereka, rasa senang dan sedih tercampur, tapi inilah hidup semua dapat terjadi jika Tuhan berkehendak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar