Disudut teras
rumah ku aku melihat tetangga baru. Aku menyapa ibu yang sedang menyapu
dihalaman rumahnya. Hallo ibu permisi aku salah satu tetangga barumu, sapaan
ku. Hallo nak senang bertemu denganmu, kau sepertinya sebaya dengan anak ibu
siapa namamu? Tanya ibu itu. Saya khoirunnisa bu panggil saja saya Nisa. Aku bersekolah
di sekolah SMA Kemerdekaan kelas X, anak ibu sebaya kah denganku? Jawabku. Iya
dia sebaya denganmu dan ibu telah mendaftarkannya ke sekolah yang sama denganmu
nak tapi sayang dia sedang tidak dirumah dia sedang ibu suruh beli makanan,
kamu tinggal dengan siapa disini? Tanyanya. Aku tinggal sendiri bu, ayahku
pulang tiga bulan sekali ia bekerja di luar negeri, jawabku. Ohya? Kalau begitu
kau bisa sering main kesini jika kau kesepian nak.
Pagi yang
cerah membangunkan ku untuk segera bergegas pergi sekolah entah mengapa aku
sangat senang dengan adanya tetangga baru itu, saat aku mengunci gembok pagar
rumah ku ibu Sania yaitu tetangga baruku memanggil dan memperkenalkanku pada
anaknya yang bernama Adit , pada akhirnya kita pergi sekolah bersama. Karena
kedekatan yang selalu terjalin setiap harinya aku dan Adit mejalin hubungan lebih daripada
teman, entah mengapa Adit dan aku tidak sulit untuk saling menyayangi, ada
sebuah rasa yang selalu membuat hati kita bersatu.
Tiga bulan
kemudian ayah pulang, sepulang sekolah aku memperkenalkan Adit pada ayah dan
entah mengapa ayah pun dengan mudah akrab dengan Adit dan meminta untuk bertemu
dengan keluarga Adit. Karena memang bertetangga aku dan Adit mengajak ayah
kesana. Dan sesuatu yang mengejutkan ternyata ayah dan Ibu Adit telah saling
mengenal mereka adalah orang tuaku dan orang tua Adit. Mereka dulunya ialah
suami istri yang sebelumnya dipertemukan disebuah ladang pertenakan keluarga
ayah dan ibu hanyalah anak salah satu pekerja ladang kakek, tapi karena cinta
yang tiba – tiba datang, mereka melarikan diri untuk menikah dan pada saat ibu
melahirkan anak kembar tidak identik ayah dan ibu dipisahkan dengan membawa
masing – masing satu anak. Aku dan Adit hanya dapat terdiam dan terkejut dengan
cerita mereka, rasa senang dan sedih tercampur, tapi inilah hidup semua dapat
terjadi jika Tuhan berkehendak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar