Pagi yang dingin
membuatku menarik selimut hingga dadaku aku melihat sekeliling berupa alat alat
aneh dan menyeramkan aku tau alat itu karena aku pernah mempelajarinya di sekolah
dan itu adalah alat alat yang selalu aku dambakan disetiap aku sedang
memikirkan masa depanku tapi mengapa kini aku bosan melihat semua alat ini dan
ini sangat mengerikan. Aku ingin pulang dari tempat ini aku ingin melanjutkan
sekolah ku di sekolah menengah atas seperti teman – teman, mereka cantik dan tampan
saat menjenguku memakai baju putih abu. Dokter itu bukan Tuhan tapi mengapa
orang tua ku mempercayainya aku sakit! Aku harus dirawat hingga aku meninggal!.
My diary aku
ingin bercerita tentang masa bahagiaku.. Waktu yang sangat bahagia aku belajar
di sekolah dan bermain disekolah, pertama kali aku memakai baju putih abu. Ospek
itulah hari pertamaku masuk sekolah aku sangat lelah tapi itulah yang membuatku
tak pernah lupa, saat itu aku pergi bersama temanku lara membawa banyak sekali
peralatan yang hari sebelumnya telah di informasikan oleh senior untuk dibawa dan ternyata aku dan lara lupa satu
hal. Nanda kita harus membawa print out gambar super hero, ucap lara panik. Oya?
Aku lupa dengan itu, tenanglah Lara biar kita dihukum kita akan bersama tidak
akan sendiri, ucapku menenangkan. Tidak lama kemudian para senior datang dan
akan memeriksa perlengkapan yang aku dan teman seangakatan ku bawa. Omg!omg!omg!
bisikan anak anak satu kelasku saat melihat senior laki - laki yang menuju
tempat duduk ku untuk memeriksa, dia adalah Putra, senior yang paling
mendapatkan perhatian dari semua murid permepuan seangkatanku dan aku pun
merasa berbeda disaat dia menatapku hati ku selalu berdebar.
Ospek pun
selesai dan aku pun mulai belajar, 20 hari kemudian di lapangan basket terlihat
keramaian yang sedang bersorak, aku dan Lara pun langsung bergegas dan melihat
dan ternyata sedang berlangsungnya permainan basket. Hati ku berdebar saat
melihat Putra menjadi salah satu pemain di lapangan mataku tertuju hanya pada Putra,
saat permainan selesai aku dan Lara pergi dari pinggir lapangan dan ternyata
didepan ku ada sosok Putra ia menyapaku dan masih ingat dengan namaku. Lara
mengoceh mengapa hanya aku yang Putra ingat bukan juga dirinya haha senyuman
yang hanya aku berikan padanya. Sepulang sekolah Putra berada di parkiran motor
yang terlihat bersiap untuk pulang aku dan Lara sengaja untuk memperlambat
langkah kaki agar dapat terlewat oleh Putra dan saat Putra akan mendahului
perjalan kita ia meoleh ke arah aku dan Lara dan berkata “duluan” sambil membuang
senyum manisnya pada kita. Aku dan Lara berjingkrak, sepertinya dia suka padamu
nan, ucap Lara. Hahaha kamu yakin ga cemburu? Aku jawab dengan candaan. Kalo Putra
suka sama kamu ya jangan kamu sia – sia in aku selalu dibelakangmu. 30 hari kemudian
aku dan Putra semakin dekat karena Lara yang mendekatkanku dengannya, Lara
selalu bilang Kalian itu sama – sama Cinta yang selalu membuat aku dan Putra
malu, bel sekolah pun berbunyi aku langsung bergegas untuk pulang entah mengapa
kepalaku sangat pusing hidungku mimisan saat itu tapi aku terus berjalan karena
aku melihat ada Putra yang sedang berlari ke arahku, aku terjatuh pada pelukan
Putra dan aku tak ingat apa – apa lagi setelah itu. Disaat aku tersadar kembali semua orang
menangis aku sungguh tidak mengerti tapi aku pun tidak bisa menahan tangisankuperasaan
takut saat itu. Dokter yang gagah mengusap keningku dan berkata aku harus kuat
dan berkata kamu terkena penyakit serius yaitu leukimia. Aku hanya bisa mengucapkan
maaf kepada semua orang saat itu aku takut akan pergi dengan segala dosa ku
karena aku tau penyakit yang sedang menggrogotiku adalah penyakit yang akan
merenggut nyawa dengan hanya membutuhkan waktu sebentar. 2 hari kemudian Lara dan Putra menjenguku. Lara
yang selalu memberikan motivasi bagiku dan saat itu Putra mengatakan sesuatu
yang seharusnya membuatku sangat bahagia
tapi.. aku takut ia mengatakan perasaan cintanya hanya karena aku sakit. Orang
tua ku sibuk mencari pendonor sumsum tulang belakan untukku, aku tak tega
melihat mereka bersedih, yang pada akhirnya aku bicara pada mereka untuk tidak
melanjutkan biar aku begini, inilah penyakitku, aku hanya ingin berbuat
kebaikan pada saat ini.
Ketukan pintu
membuatku berhenti menulis. Nanda mamah dengar Lara dan Putra mencarimu apakah
kau tega? Ucap mamah. Aku akan lebih tidak tega bila mereka melihat kematianku,
jawabku. Tapi sayang mereka hanya ingin bertemu denganmu kamu yang memutuskan
tidak ingin mencari pendonor dan menerima semua penyakitmua tapi mengapa kamu
menjauh dari mereka apakah kamu tidak ingin melihat mereka untuk yang terakhir
kali? Ucapa mamah sambil tak henti meneteskan air matanya. Mamah ambilkan
kamera dipojok itu dan tolong rekam aku sampai berulang kali ya aku ingin
membuat kenangan untuk teman – temanku tapi jika terekam disaat aku menghembuskan
nafas terakhir tolong langsung hapus, jawabku untuk yang terakhir kalinya. Kamu
tidak akan meninggalkan mamah dan papah sayang, jawab mamah sambil mngambil
kamera. Disaat akan memulai papah dan seorang suster datang membawa makanan
kesukaanku. Papah sini aku akan membuat suatu kenangan dariku dan suster tolong
rekam ya. Dua rekaman telah selesai yang menceritakan ku dari kecil hingga
dewasa dan satunya lagi saat aku makan bersama kedua orang tua ku. Disaat yang
ketiga permintaan maaf untuk temanku tapi aku merasa jantungku akan berhenti
berdetak tubuhku dingin aku menyuruh suster untuk berhenti dan mengirimkan
rekaman pada teman – temanku yang berisikan “ Aku mungkin sudah pergi sekarang
tapi aku selalu ada dihati kalian Lara kau sahabatku yang sangat aku cintai, Ka
Putra adalah sosok yang aku kagumi aku sangat mencintai kalian” Rekaman yang
aku buat dan diary ini semoga menjadi kenangan untuk kalian teman – teman aku
sudah tidak kuat menahan ini aku selesaikan diary ini selamat tinggal J.
Dear Diary ini
aku Lara teman yang memilikimu dia sudah pergi sekarang aku mengetahui kamu
adalah saksi bisu yang melihat Nanda sakit, aku melihat coretan darah di
kertasmu di halaman terakhir mungkin ia
bersusah payah membuat semua kenangangan untukku dan Ka Putra. Nandaaaaa aku
dan ka Putra sangat menyayangimu. Diary ini akan aku simpan di bawah rumah pohon
yang berada dibelakang sekolah siapapun yang membaca ini mereka akan mengenalmu
meskipun kau telah tiada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar