Senin, 03 September 2012

Miracle Of Future


Pagi yang indah datang disaat ia mulai membuka matanya, rasa syukur yang selalu ia ucapkan sebelum melakukan kegiatan apapun dan sebelum ia beranjak dari kasurnya ia selalu melihat langit – langit kamarnya yang terlihat seperti akar – akar beringin,  ia menempelkan beberapa tali dan dibawahnya ada secarik kertas dengan tulisan harapan yang selalu memotivasinya untuk selalu melakukan hal positif disetiap harinya dan pada akhirnya pembantu dirumahnya mengetuk pintu sambil berbicara lembut “ den Dirly ayo siap – siap untuk sekolah ”. Dia pun beranjak dari kasurnya dan setelah seluruhnya siap ia menuju ruang makan yang selalu disambut dengan kata – kata “Pagi my hero” itu yang selalu ayahnya katakan disaat Dirly mendekati meja makan yang begitu besar tetapi hanya ada ayahnya dan dia sendiri yang makan disana karena ibunya telah meninggal dunia disaat ia menduduki bangku SD. Waktu menunjukan pukul 06.30 Dirly meminta supirnya untuk mengantarkannya ke sekolah, diperjalanan ternyata ada perbaikan jalan yang membuat ia harus mengambil jalan lain, Dirly menolak untuk lewat jalan itu dan meminta supirnya untuk kembali ke rumah saja, supirnya pun langsung mengambil jalan untuk kembali kerumah karena dia mengerti bahwa tuannya tidak ingin melewati jalan yang menjadi saksi bisu kematian ibunya dalam kecelakaan, tetapi keinginan Dirly langsung berubah setelah temannya mengirimkan sms padanya bahwa hari ini akan ada ulangan dadakan.  Disaat berada dijalan tersebut Dirly berkeringat dingin memikirkan segala yang bersangkutan dengan kejadian mendiang ibunya, tetapi penglihatannya tertuju pada gambar yang menyerupai lukisan di dinding – dinding bawah jembatan dan meminta pak Anwar supirnya untuk mengantar ia kembali ke tempat ini sepulang sekolah. Sesampainya ia di bawah jembatan yang penuh dengan gambar dari cat bangunan ia berfikir apakah ada seniman yang tinggal dibawah jembatan sekumuh ini,  pertanyaan dalam hatinya terjawab disaat ada dua orang anak laki – laki sebayanya sedang melukis dinding-dinding dengan cat bangunan dan ia langsung berfikir merekalah yang membuat semua ini dan ia pun menghampiri mereka “Hallo apakah lukisan – lukisan di dinding ini kalian yang buat?”, salah satu dari mereka menjawab “ Apa? Lukisan kau bilang apa maksudmu apakah kau menghina kami? Ini hanyalah gambar yang kami gambar dengan cat bangunan bekas ”, Dirly merasa ada kesalahan dengan kata yang ia lontarkan “ maaf aku tidak bermaksud untuk menghina kalian aku hanya tidak tau harus mengatakan apa dengan gambar – gambar ini dan karena ini seperti lukisan maka aku bilang bahwa ini lukisan, ini gambar yang bagus menurutku tak kalah dengan koleksi lukisan ayahku yang beliau beli dari seniman terkenal” ,                                                anak yang lainnya berbicara pada saudaranya “ Kaka ia ini orang kaya ayo kita pergi dari sini” “ Iya dek ayo buat apa kita mendengarkan kesombongan dia ” balas saudaranya, setelah kedua kaka beradik itu pergi Dirly berkata pada supirnya “ Mengapa mereka selalu menganggap kalo kami merendahkan mereka dan menganggap jahat kami pak?”, sebelum pak Anwar menjawabnya kedua anak itu kembali dan menyangkal semua pernyataan Dirly “ Kami tidak seperti itu, apakah yang kamu inginkan?” “ Aku hanya ingin membawa kalian ke rumahku dan melukis sesuatu untukku karena hari ini ayahku ulang tahun nanti aku akan beri kalian upah, apakah kalian mau? “ ajakan Dirly “ Kamu akan membayar kami? Baiklah kami akan ikut kerumahmu ”. Di dalam mobil Dirly menanyakan nama dan rumah mereka, dan ternya mereka adalah kakak beradik yang hanya bertemu di bawah jembatan, mereka adalah Dino dan Eko mereka mempunyai ayah yang satu profesi yaitu pedagang kaki lima dan mereka hanyalah lulusan SD. Sesampainya dirumah Dirly mereka langsung melukis di kain kanfas dan menggunakan cat lukis dan hasilnya sama bagus dengan ganbar di dinding bawah jembatan. Sepulang ayahnya Dirly memberikan hadiah ulang tahun berupa lukisan dan ternyata ayahnya sangat menyukai lukisan tersebut dan menanyakan siapa yang mebuat lukisan terebut dan Dirly menceritakan semuanya.
Keesokan harinya Dirly meminta pada ayahnya untuk membantu kedua anak itu menjadi seorang pelukis sesungguhnya, tetapi ayahnya tidak menjawab suatu jawaban yang ia ingin dengar dan jawaban ini sekaligus pengakuan ayahnya yang membuat ia tercengang bahwa ayahnya bangkrut dan akan pergi ke luar negeri untuk mengembalikan semuanya dan meminta Dirly untuk bersedia tinggal dibawah jembatan bersama kedua teman barunya, Dirly merasa tidak percaya dengan keadaan yang sedang ia alami tetapi ia mempunyai suatu harapan dan mimpi yang akan ia mulai bangun jika ia berada di dalam keadaan tidak mampu yang akhirnya membawa Dirly benar – benar tinggal di bawah jembatan bersama Dino dan Eko. Dirly masih dapat bersekolah karena meskipun ia kaya tetapi ia adalah murid berprestasi dan mendapatkan bea siswa juga uang jajan yang akan dikirimkan setiap bulannya oleh ayahnya melalui pak Anwar bekas supirnya meskipun uang jajan nya jauh dengan uang jajan sebelumnya. Dalam keadan yang sangat minim Dirly selalu menghemat dan melakukan hal yang menghasilakn uang bersama teman – teman nya ia membelikan kanfas dan cat lukis dengan uang yang ia sisihkan sedangkan Dini dan Eko melukisnya hingga akhirnya mereka menjual hasil lukisan – lukisan itu. Pada suatu hari disaat Dirly pulang dari sekolah dan membantu menjual lukisan di lampu merah,  ada sebuah mobil bmw mewah yang ingin membeli lukisan mereka dengan harga yang sangat tinggi dan meminta mereka membuat lukisan lebih banyak lagi untuk koleksinya. Hanya untuk bebrapa bulan mereka berubah menjadi anak remaja yang memiliki banyak uang, mereka dapat membeli rumah dan membagikan yang mereka punya kepada orang – orang yang hidup dibawah jembatan.
 Disaat Dirly, Dino, dan Eko sedang  membagikan makanan terhadap anak – anak jalanan, mobil ferari mendekati dan Dirly sadar bahwa mobil itu ialah miliknya saat ia masih kaya, tidak lama kemudian ternyata ayahnya turun dari mobil itu dan menceritakan bahwa sebenarnya ayahnya tidak bangkrut hanya ayahnya iangin membuat Dirly menjadi seseorang yang mandiri, disaat Dirly memintanya untuk membantu kedua temannya beliau ingin ia sendiri yang melakukannya bukan dengan bantuan beliau dan akhirnya memang itu terjadi, beliau mengetahui Dirly menjadi anak yang sukses dengan hanya sedikit bantuan darinya setelah melihat kantor temannya dipenuhi lukisan yang mirip dengan lukisan yang ia punya dari hadiah ulang tahun Dirly dan menanyakan darimana lukisan itu. Semuanya kembali seperti biasa bukan hanya keluarga Dirly tetapi Dino dan Eko pun ikut bersekolah di Sekolah Menengah Atas terbaik bersama dengan Dirly, 8 tahun kemudian Dirly menjadi seorang dokter seperti yang ia inginkan sejak kecil setelah ia melihat langsung ibunya meninggal dan ia berjanji akan menjadi dokter agar dapat membantu orang yang mengalami kecelakaan menjadi sembuh bukannya meninggal seperti yang terjadi pada ibunya dan Dino juga Eko menjadi seniman terkenal yang dikenal nasional juga internasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar