Pagi yang indah datang disaat ia
mulai membuka matanya, rasa syukur yang selalu ia ucapkan sebelum melakukan
kegiatan apapun dan sebelum ia beranjak dari kasurnya ia selalu melihat langit
– langit kamarnya yang terlihat seperti akar – akar beringin, ia menempelkan beberapa tali dan dibawahnya
ada secarik kertas dengan tulisan harapan yang selalu memotivasinya untuk
selalu melakukan hal positif disetiap harinya dan pada akhirnya pembantu
dirumahnya mengetuk pintu sambil berbicara lembut “ den Dirly ayo siap – siap
untuk sekolah ”. Dia pun beranjak dari kasurnya dan setelah seluruhnya siap ia
menuju ruang makan yang selalu disambut dengan kata – kata “Pagi my hero” itu
yang selalu ayahnya katakan disaat Dirly mendekati meja makan yang begitu besar
tetapi hanya ada ayahnya dan dia sendiri yang makan disana karena ibunya telah
meninggal dunia disaat ia menduduki bangku SD. Waktu menunjukan pukul 06.30
Dirly meminta supirnya untuk mengantarkannya ke sekolah, diperjalanan ternyata
ada perbaikan jalan yang membuat ia harus mengambil jalan lain, Dirly menolak
untuk lewat jalan itu dan meminta supirnya untuk kembali ke rumah saja,
supirnya pun langsung mengambil jalan untuk kembali kerumah karena dia mengerti
bahwa tuannya tidak ingin melewati jalan yang menjadi saksi bisu kematian
ibunya dalam kecelakaan, tetapi keinginan Dirly langsung berubah setelah
temannya mengirimkan sms padanya bahwa hari ini akan ada ulangan dadakan. Disaat berada dijalan tersebut Dirly berkeringat
dingin memikirkan segala yang bersangkutan dengan kejadian mendiang ibunya,
tetapi penglihatannya tertuju pada gambar yang menyerupai lukisan di dinding –
dinding bawah jembatan dan meminta pak Anwar supirnya untuk mengantar ia
kembali ke tempat ini sepulang sekolah. Sesampainya ia di bawah jembatan yang
penuh dengan gambar dari cat bangunan ia berfikir apakah ada seniman yang
tinggal dibawah jembatan sekumuh ini, pertanyaan dalam hatinya terjawab disaat ada
dua orang anak laki – laki sebayanya sedang melukis dinding-dinding dengan cat
bangunan dan ia langsung berfikir merekalah yang membuat semua ini dan ia pun
menghampiri mereka “Hallo apakah lukisan – lukisan di dinding ini kalian yang
buat?”, salah satu dari mereka menjawab “ Apa? Lukisan kau bilang apa maksudmu
apakah kau menghina kami? Ini hanyalah gambar yang kami gambar dengan cat
bangunan bekas ”, Dirly merasa ada kesalahan dengan kata yang ia lontarkan “
maaf aku tidak bermaksud untuk menghina kalian aku hanya tidak tau harus
mengatakan apa dengan gambar – gambar ini dan karena ini seperti lukisan maka
aku bilang bahwa ini lukisan, ini gambar yang bagus menurutku tak kalah dengan
koleksi lukisan ayahku yang beliau beli dari seniman terkenal” ,
anak yang lainnya berbicara pada saudaranya “ Kaka ia ini orang kaya ayo
kita pergi dari sini” “ Iya dek ayo buat apa kita mendengarkan kesombongan dia ”
balas saudaranya, setelah kedua kaka beradik itu pergi Dirly berkata pada
supirnya “ Mengapa mereka selalu menganggap kalo kami merendahkan mereka dan
menganggap jahat kami pak?”, sebelum pak Anwar menjawabnya kedua anak itu
kembali dan menyangkal semua pernyataan Dirly “ Kami tidak seperti itu, apakah
yang kamu inginkan?” “ Aku hanya ingin membawa kalian ke rumahku dan melukis
sesuatu untukku karena hari ini ayahku ulang tahun nanti aku akan beri kalian
upah, apakah kalian mau? “ ajakan Dirly “ Kamu akan membayar kami? Baiklah kami
akan ikut kerumahmu ”. Di dalam mobil Dirly menanyakan nama dan rumah mereka,
dan ternya mereka adalah kakak beradik yang hanya bertemu di bawah jembatan,
mereka adalah Dino dan Eko mereka mempunyai ayah yang satu profesi yaitu
pedagang kaki lima dan mereka hanyalah lulusan SD. Sesampainya dirumah Dirly
mereka langsung melukis di kain kanfas dan menggunakan cat lukis dan hasilnya
sama bagus dengan ganbar di dinding bawah jembatan. Sepulang ayahnya Dirly
memberikan hadiah ulang tahun berupa lukisan dan ternyata ayahnya sangat
menyukai lukisan tersebut dan menanyakan siapa yang mebuat lukisan terebut dan
Dirly menceritakan semuanya.
Keesokan harinya Dirly meminta
pada ayahnya untuk membantu kedua anak itu menjadi seorang pelukis
sesungguhnya, tetapi ayahnya tidak menjawab suatu jawaban yang ia ingin dengar
dan jawaban ini sekaligus pengakuan ayahnya yang membuat ia tercengang bahwa
ayahnya bangkrut dan akan pergi ke luar negeri untuk mengembalikan semuanya dan
meminta Dirly untuk bersedia tinggal dibawah jembatan bersama kedua teman
barunya, Dirly merasa tidak percaya dengan keadaan yang sedang ia alami tetapi
ia mempunyai suatu harapan dan mimpi yang akan ia mulai bangun jika ia berada
di dalam keadaan tidak mampu yang akhirnya membawa Dirly benar – benar tinggal
di bawah jembatan bersama Dino dan Eko. Dirly masih dapat bersekolah karena
meskipun ia kaya tetapi ia adalah murid berprestasi dan mendapatkan bea siswa
juga uang jajan yang akan dikirimkan setiap bulannya oleh ayahnya melalui pak Anwar
bekas supirnya meskipun uang jajan nya jauh dengan uang jajan sebelumnya. Dalam
keadan yang sangat minim Dirly selalu menghemat dan melakukan hal yang
menghasilakn uang bersama teman – teman nya ia membelikan kanfas dan cat lukis
dengan uang yang ia sisihkan sedangkan Dini dan Eko melukisnya hingga akhirnya
mereka menjual hasil lukisan – lukisan itu. Pada suatu hari disaat Dirly pulang
dari sekolah dan membantu menjual lukisan di lampu merah, ada sebuah mobil bmw mewah yang ingin membeli
lukisan mereka dengan harga yang sangat tinggi dan meminta mereka membuat
lukisan lebih banyak lagi untuk koleksinya. Hanya untuk bebrapa bulan mereka
berubah menjadi anak remaja yang memiliki banyak uang, mereka dapat membeli
rumah dan membagikan yang mereka punya kepada orang – orang yang hidup dibawah
jembatan.
Disaat Dirly, Dino, dan Eko sedang membagikan makanan terhadap anak – anak jalanan,
mobil ferari mendekati dan Dirly sadar bahwa mobil itu ialah miliknya saat ia
masih kaya, tidak lama kemudian ternyata ayahnya turun dari mobil itu dan
menceritakan bahwa sebenarnya ayahnya tidak bangkrut hanya ayahnya iangin
membuat Dirly menjadi seseorang yang mandiri, disaat Dirly memintanya untuk
membantu kedua temannya beliau ingin ia sendiri yang melakukannya bukan dengan
bantuan beliau dan akhirnya memang itu terjadi, beliau mengetahui Dirly menjadi
anak yang sukses dengan hanya sedikit bantuan darinya setelah melihat kantor
temannya dipenuhi lukisan yang mirip dengan lukisan yang ia punya dari hadiah
ulang tahun Dirly dan menanyakan darimana lukisan itu. Semuanya kembali seperti
biasa bukan hanya keluarga Dirly tetapi Dino dan Eko pun ikut bersekolah di
Sekolah Menengah Atas terbaik bersama dengan Dirly, 8 tahun kemudian Dirly
menjadi seorang dokter seperti yang ia inginkan sejak kecil setelah ia melihat
langsung ibunya meninggal dan ia berjanji akan menjadi dokter agar dapat
membantu orang yang mengalami kecelakaan menjadi sembuh bukannya meninggal
seperti yang terjadi pada ibunya dan Dino juga Eko menjadi seniman terkenal
yang dikenal nasional juga internasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar